“Nilai Tanpa Proses: Catatan Kritis dari Ruang Kuliah”

Ada ironi yang terlalu sering terjadi di ruang kuliah kita: dosen yang kehadirannya tidak menentu, perkuliahannya tidak utuh, namun tuntutannya pada nilai begitu mutlak.

Saya, Dito Setiawan, menulis pernyataan ini sebagai bentuk kegelisahan sekaligus perlawanan intelektual terhadap praktik akademik yang tidak sehat.

Saya mengalami secara langsung bagaimana nilai mahasiswa dipersulit oleh oknum dosen yang kehadirannya tidak konsisten. Kadang masuk, kadang tidak. Proses perkuliahan berjalan setengah, materi tidak utuh, diskusi minim, bimbingan nyaris tak terasa. Namun ketika semester berakhir, standar penilaian justru berdiri kaku dan menekan.

Saya tidak sedang menuntut nilai tinggi. Saya menuntut keadilan akademik.

Dalam kondisi seperti ini, nilai tidak lagi lahir dari pembelajaran, melainkan dari kekuasaan. Mahasiswa diposisikan sebagai pihak yang wajib menerima, bukan sebagai subjek yang berhak mendapatkan proses akademik yang adil.

Sulitnya nilai bukan masalah jika diiringi bimbingan yang konsisten. Standar tinggi bukan persoalan jika pengajaran dijalankan secara utuh. Namun ketika kehadiran saja tidak terjaga, lalu atas dasar apa mahasiswa diukur secara ketat?

Saya menolak normalisasi ketimpangan di ruang kuliah. Saya menolak budaya diam yang memaksa mahasiswa menerima apa pun atas nama “takut nilai”. Kampus bukan ruang feodal. Ia adalah ruang nalar. Dan nalar tidak pernah tumbuh di bawah ketakutan.

Statemen ini bukan serangan personal. Ini kritik terhadap perilaku dan sistem yang dibiarkan hidup. Karena kampus yang sehat tidak dibangun dari mahasiswa yang bungkam, tetapi dari keberanian untuk mengoreksi.

Jika kehadiran dosen hanya setengah, maka jangan tuntut hasil yang sempurna.
Jika pengajaran dijalankan seadanya, maka jangan mengadili seolah-olah proses telah berlangsung luar biasa.

Saya, Dito Setiawan, berdiri bukan untuk memberontak tanpa arah, tetapi untuk mengingatkan: pendidikan tanpa keadilan hanya akan melahirkan generasi yang sinis terhadap dunia akademik.

Kampus seharusnya menanamkan etika, bukan membiasakan ironi. Karena dosen yang jarang hadir tetapi rajin mempersulit nilai bukan sedang mendidik, ia sedang merusak kepercayaan akademik.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *