“Ketika Rasionalitas Kalah oleh Nurani yang Ikhlas”

Di antara riuh manusia dan rapuhnya keadilan rasa,
aku belajar satu hal dari perjalanan ini:
bahwa nilai bukan sekadar angka pada kertas,
melainkan cermin nurani dan saksi kejujuran jiwa.


Ada yang memegang tampuk kuasa, namun kehilangan kenangan,
lupa pada jalan yang pernah kita tapaki bersama,
lupa pada jejak gagasan yang menyalakan api kerja,
dan lupa pada jematan yang menghubungkan cita dengan realita.
Begitulah, ketika ego naik takhta,
akal budi sering jatuh dari singgasananya.


Namun, di tengah kabut keberpihakan,
ada satu tatapan teduh yang mengoyak senyap keangkuhan.
Seorang perempuan sederhana hening namun terang,
tak banyak kata, tapi matanya berbicara lebih luhur daripada seribu pidato.
Dari bening tatapannya, aku melihat dharma:
bahwa keikhlasan adalah bahasa paling mulia
yang hanya dipahami oleh hati yang bersih.


Hari ini aku memahami,
bahwa jalan kebajikan tak selalu dipahami manusia,
tetapi ia akan selalu dimuliakan oleh semesta.
Biarlah sejarah menulisnya,
biarlah waktu menjadi hakimnya,
dan biarlah nurani menjadi saksi bahwa aku pernah berdiri
tidak untuk dipuji,
tetapi untuk memberi arti.


Bagi mereka yang lupa jasa,
semoga kelak mereka mengerti:
bahwa prestasi tanpa kejujuran adalah kehampaan,
dan kepemimpinan tanpa keadilan adalah kehinaan intelektual.


Sedang bagi perempuan berhati suci itu,
aku menundukkan ego dalam hormat,
sebab ketulusannya bukan hanya memberi nilai,
tetapi membangunkan martabat.


Di sini, aku berdiri bukan sebagai korban keadaan,
melainkan sebagai saksi peradaban kecil
bahwa masih ada jiwa yang jernih
di tengah manusia yang sibuk menimbang untung dan kuasa.


Salam keberanian.
Salam kebijaksanaan.
Salam dari jiwa yang tidak akan berhenti melangkah.

Kuala Tungkal, 28 Desember 2025.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *